Make your own free website on Tripod.com

Haram Meminta Bantuan Amerika dan Musuh Islam

GUS DUR lantik Henry Kissinger (Yahudi-bekas Setiausaha Negara Amerika Syarikat) sebagai Penasihat politik. Begitulah bunyi petikan berita utama akhbar minggu lepas (3 Mac 2000). Bahkan lebih dari itu menurut Amien Rais, Presiden Indonesia itu juga telah melantik bekas Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew sebagai penasihat Ekonomi Indonesia. Begitupula yang telah terjadi sebelum ini di Malaysia. PM Menteri Malaysia sendiri telah melantik ‘orang Luar’ (Kafir) sebagai Konsultan kepada ekonomi Malaysia. Dan begitu jugalah yang terjadi di negeri-negeri muslim yang lain di mana para pemimpin negeri-negeri Islam tersebut menjemput ‘orang luar’ untuk menguruskan hal ehwal dalaman negeri. Wajarkah kita minta bantuan kepada ‘orang luar’ seperti AS, meskipun ia hanya berupa bantuan moral ? Apa ketentuan hukum syara’ mengenai permintaan bantuan kepada negara kafir imperialis, seperti AS? Bolehkah AS serta musuh-musuh Islam menyelesaikan masalah yang kita hadapi? Tidakkah umat Islam mampu menyelesaikan permasalahan sendiri? Tulisan ini akan cuba menjelaskan secara ringkas masalah-masalah tersebut.

Menjadikan Lawan Sebagai Kawan ?

  Meminta bantuan kepada negara kafir imperialis seperti AS, dan menjalin hubungan politik dengan mereka adalah tindakan menjadikan lawan sebagai kawan. Padahal Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menjadikan musuh sebagai musuh, bukan sebaliknya, sebagaimana firman-Nya :

"Sesungguhnya syaitan bagimu adalah musuh, maka jadikanlah dia sebagai musuh" ( Faathir 6)

Banyak pihak yang menilai adanya keterlibatan AS dalam berbagai kerusuhan, termasuk di antaranya yang terjadi di Ambon dan Timor Timur. Juga apa yang telah dilakukan AS untuk menyerang kaum muslimin di Iraq, Sudan, Afghanistan, dan lain-lain; kesemuanya adalah bukti kukuh bahawa AS sesungguhnya adalah musuh bagi umat Islam.  Wajarkah orang yang telah membuat keonaran, merampas, menindas, mengusir, dan membunuh di rumah kita dan juga di rumah saudara-saudara kita; mereka dijadikan sebagai kawan atau bahkan dijadikan sebagai penolong ? Allah berfirman

:"Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu kerana agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim" (Al Mumtahanah 9)

Maka, tindakan meminta bantuan (apapun bentuknya) menurut kacamata syariat Islam adalah tindakan zalim, dan tidak wajar dilakukan kecuali oleh orang-orang yang telah dibutakan pandangannya hanya untuk memperoleh kemaslahatannya saja. Sebab AS adalah negara Barat Kafir yang jelas-jelas memusuhi Islam dan kaum muslimin, yang telah membantai dan membunuh saudara-saudara di Iraq, Somalia dalam berbagai operasi ketenteraannya yang bertopengkan kebaikan.

 

Haram, Minta Bantuan kepada Negara Kafir

  Islam dalam setiap gerak kehidupan mempunyai tata aturan yang lengkap, sempurna dan menyeluruh. Contohnya dalam bidang kenegaraan dan hubungan antarabangsa, Islam memiliki peraturan yang seksama yang mengatur hubungan antara negara dalam keadaan perang maupun damai. Ada bentuk-bentuk kerjasama yang dibolehkan dan ada pula yang tidak. Dalam hal memintaan bantuan kepada negara kafir, Islam telah mengharamkannya dengan nash-nash yang tegas dan jelas, khususnya bagi negara teroris seperti AS yang senantiasa ingin mencengkeramkan kuku kekuasaannya di negeri-negeri Islam. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah SWT :

"Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai wali selain orang-orang mukmin. Siapa saja yang berbuat demikian, maka terlepaslah dari pertolongan Allah" (Ali Imran 28)

  Larangan tersebut diperkuat ayat lain iaitu firman Allah SWT :

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali bagimu; masing-masing menjadi wali bagi kalanganya sendiri. Siapa saja di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai wali, maka orang tersebut telah masuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim" (Al Maidah 51)

  Para mufassirin dan fuqahaa’ telah mengambil kedua ayat tersebut dan yang lainnya, sebagai dalil keharaman meminta bantuan kepada negara Kafir. Erti wali dalam kedua ayat tersebut adalah penolong, pelindung, dan pendukung. Termasuk dalam pengertian tersebut adalah menjalin persahabatan antara kaum muslimin dengan kelompok atau individu-individu kafir. Dengan demikian, yang seharusnya dijadikan penolong, pelindung, pendukung dan sahabat, hanyalah orang-orang mukmin.  Selain dari itu, ayat yang kedua di atas juga menjelaskan bahawa orang-orang kafir itu adalah wali bagi kalangannya sendiri (Al Anfal : 73). Mereka akan bersatu padu untuk melawan dan menyerang umat Islam. Bila demikian sikap dan tindakan mereka, mengapa kita mesti meminta bantuan dan dukungan mereka ?

 Rasulullah SAW. telah menolak dengan tegas bantuan orang kafir dan tidak meminta bantuan mereka. Dari Aisyah ra, berkata : "Nabi keluar untuk berperang pada perang Badar. Ketika beliau sampai di suatu tempat yang bernama Harratul Wabarah (suatu tempat yang berjarak 4 batu dari Madinah), Beliau diikuti oleh seorang lelaki yang terkenal berani dan suka menolong orang, sampai orang itu berjumpa Rasulullah. Para Sahabat bergembira ketika melihat orang itu, ia lalu berkata "Aku datang untuk ikut bersamamu dan aku ingin mendapatkan bahagian dari ghanimah (harta rampasan)". Rasulullah SAW lalu bertanya : "Apakah engkau mau beriman kepada Allah dan RasulNya". Lelaki itu menjawab: "Tidak !". Kemudian Rasulullah SAW berkata :"Kembalilah engkau! kami tidak menerima pertolongan dari orang Musyrik"

 Dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW :

"Janganlah kalian mencari penerangan dari api Musyrikin (yakni minta pertolongan kepada kaum musyrikin dalam suatu peperangan), dan janganlah kalian memahat tulisan pada cincinmu (yakni tulisan Muhammad Rasulullah) " (HR. Imam Ahmad, dalam Al Musnad, Jilid III, Hal. 99; dan An Nasai, Jilid VIII, Hal. 177)

 Az Zuhri meriwayatkan sebuah hadits bahawa orang-orang Anshar pada suatu hari berkata kepada Rasulullah SAW : "Ya Rasulullah apakah kita tidak meminta pertolongan dari orang kaum Yahudi dan Nashrani yang telah terikat perjanjian kerja sama dengan kita ? Rasulullah menjawab : "Kita tidak perlu (pertolongan) mereka" (Riwayat ini telah dicantumkan oleh Ibnu Katsir dalam "Sirah Nabawiyah" Jus III, Hal. 64.)

 

Umat Islam Boleh Menyelesaikan Masalahnya

  Sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan Risalah Islam secara sempurna, untuk mengatur kehidupan manusia dan memecahkan segala problem yang dihadapinya. perbagai krisis yang melanda umat Islam saat ini, tak lain disebabkan kerana mereka kini tidak hidup secara Islami dengan menjadikan risalah Islam sebagai penyelesaiankepada semua masalah yang membelitnya.  Salah satu masalah penting umat saat ini adalah bahawa mereka tidak lagi memiliki Khilafah (sistem pemerintahan Islam), yang dipimpin oleh Khalifah/Imam. Institusi inilah sesungguhnya satu-satunya yang boleh berperanan mempersatukan kekuatan Islam dan melindungi umat, serta memecahkan segala permasalahan yang dihadapinya dengan pedoman syariat Islam. Tugas dan fungsi khalifah/imam adalah sebagai pengatur/pemelihara urusan umat dan sebagai penjaga dan pelindung umat. Rasulullah SAW bersabda :

 "Seorang Imam adalah penggembala, dan dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya (rakyatnya)"

 "Sesungguhnya imam itu adalah laksana perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung"

 Oleh karena itu wajarlah, disaat umat tak lagi memiliki pemimpin, maka seluruh urusan/kepentingan mereka menjadi terbengkalai. Keamanan dan keselamatan harta serta jiwa merekapun tidak terjamin, sebab tidak ada yang menjadi pelindung. Kalaulah umat ini memiliki Khilafah dan Khalifah yang menaungi dan memimpin mereka, maka pasti semua urusan umat akan segera diselesaikan. Jeritan dan teriakan (permintaan tolong) dari umat Islam yang teraniaya, akan segera dipenuhi oleh Khlaifah. Dan tentu bantuan itu segera akan dikerahkan dan tidak ditunda-tunda lagi.

 Lihatlah apa yang pernah dilakukan Khalifah Mu’tashim, tatkala seorang wanita di kota Ammuriah (terletak antara Iraq Utara dan wilayah Syam) berteriak dan minta pertolongan kerana kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi, kemudian ia berteriak :"Di mana engkau wahai Mu’tashim ?". Maka tak lama setelah berita teriakan wanita itu sampai ke telinga Mu’tashim, beliau segera mengerahkan bantuan dan memenuhi panggilan itu, dengan mengerahkan pasukan kaum muslimin yang hujung barisannya berada di kota Ammuriah, sedangkan ekornya berada di kota Baghdad. Dengan pasukan ini bangsa Romawi diperangi dan dengan mudah dikalahkan. Kekuatan mereka dapat dipatahkan dan kota Ammuriah ditakhlukkan. Jumlah korban dari pihak musuh mencapai 30 000 orang dan jumlah orang yang ditawan juga 30 000 orang.

Demikianlah, hanya untuk membela dan melindungi seorang wanita saja, Khalifah Mu’tasim telah mengerahkan demikian banyak pasukan, dan bahkan menakhlukkan bangsa Romawi yang telah melanggar kehormatan umat Islam. Lalu pasukan yang manakah yang telah dikerahkan oleh pemimpim-pemimpin sekarang untuk membela dan melindungi umat Islam yang tertindas dan tergilis oleh kekejaman orang-orang kafir yang telah menelan jutaan korban ?

 

Agenda Umat Islam

 Untuk menyelesaikan berbagai masalah baik di bidang politik, sosial, ekonomi, mahupun keamanan, sebagaimana kes Ambon, Palestin, dan lain-lain; umat Islam sama sekali tidak memerlukan bantuan pihak manapun. Persoalannya tentu kembali kepada umat Islam sendiri, akankah ia mahu bertindak untuk memecahkan masalahnya sendiri sesuai dengan tuntunan syariat Allah, ataukah tidak.

 Dalam kaitan ini ada dua agenda penting yang harus dilakukan oleh umat Islam :

Pertama, memberikan bantuan segera untuk memberikan pertolongan pertama kepada saudara-saudaranya yang telah tertimpa musibah seperti kes Ambon iaitu dengan mengirimkan sukarelawan jihad, bantuan dana, dan logistik.

 Kedua, umat Islam harus begegas menempuh langkah-langkah sistematik untuk menggalang persatuan umat dengan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah ‘ala Minhajin Nubuwah. Hanya institusi inilah yang akan mengembalikan kewibawaan, harkat dan martabat umat Islam, sehingga tak selangkahpun orang-orang kafir berani mengganggu umat Islam.

 

Khatimah

Daripada peristiwa-peristiwa malang yang menimpa umat Islam diseluruh antereo dunia dapatlah dilihat dengan pengkajian yang cukup bahawa kesemua itu didalangi dan mempunyai hubungkait dengan musuh-mush Islam terutamanya Amerika. Kejadian-kejadian tersebut itu juga merupakan bukti nyata bahawa negara teroris AS tidak pernah dan tidak akan pernah membawa secuil kemaslahatanpun bagi umat Islam, apa lagi memberikan batuan. Apa yang boleh dilakukan AS tak lain hanyalah bencana, dan kehinaan bagi umat Islam. Meminta bantuan kepada negara kafir imperialis AS dan yang lainnya, tak akan pernah memecahkan masalah umat saat ini. Permintaan bantuan tersebut di samping secara hukum adalah haram bahkan akan menjerumuskan umat ini kedalam permasalahan yang lebih berat, dan kekacauan yang lebih luas, sebagaimana firman Allah SWT :

 "Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (yaitu jangan menjadikan orang/negara kafir menjadi wali/penolong/pelindung) niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (Al Anfaal : 73)

  Wahai kaum muslimin !

 Sesungguhnya dunia tidak akan pernah mengakui kewujudan kalian, selama kalian tidak menjadi satu kekuatan yang kukuh yang disegani lawan. Kalian tidak akan menjadi kekuatan seperti ini, selama kalian tidak bersatu. Dan kalian tidak akan bersatu, selama kalian tidak berpegang teguh kepada tali agama Allah (Islam) dan tidak mendirikan Khilafah yang akan menerapkan Islam secara total.

 "Dan berpegang teguhlah kalian pada tali agama Allah (Islam) dan janganlah berpecah-belah" (Ali Imran 103)

 

International Islamic and Development Studies