Make your own free website on Tripod.com

REFORMASI PREMATUR Dan Agenda Utama Politik

Ahmad M. An-Nabhani


REFORMASI. Itulah kata yang beberapa waktu yang lalu sering kita dengar dan dilaungkan, terutama oleh mereka yang menginginkan perubahan. Arus reformasi ini begitu kuat terjadi di Indonesia dan berhasil menumbangkan regim Soeharto dari kerusi kepresidenannya, setelah kegawatan ekonomi terjadi di Indonesia, sejak Mei 1997 hingga sekarang ini. Tuntutan reformasi juga terjadi di Jepun, sehingga menjatuhkan Ryanto Hashimoto dari jawatannya sebagai Perdana Menteri Jepun. Kini reformasi pun dilaungkan di Malaysia. Meskipun, reformasi yang di laungkan terakhir di sini, terlalu prematur dan lebih pada gerakan sporadis.

Namun, yang menjadi permasalahan sekarang adalah apakah reformasi yang dilaungkan dan berhasil membawa perubahan di Indonesia dan Jepun, termasuk yang terakhir di Russia berhasil membawa perubahan yang lebih baik, misalnya stabilitas politik, kenaikan tingkat ekonomi dan harmonisasi hubungan sosial? Ternyata tidak. Yang terjadi malah sebaliknya. Mengapa demikian? Inilah pertanyaan yang patut dikemukakan. Setelah itu, baru kemudian kita mencuba mengkaji semula tentang perlu dan tidaknya reformasi dilakukan?

Dr. Samih Athif Az-Zein, dalam bukunya yang bertajuk Harakatu At-Tarikh, mengungkapkan bahawa reformasi atau perubahan memang telah terjadi sepanjang sejarah kehidupana manusia. Dan perubahan ini telah mengikut kepada hukum (sunah) yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Meskipun manusia mempunyai peranan untuk memahami dan mengambil pelajaran dari hukum tersebut, sehingga menjadi manusia yang berpengaruh, dan menjadikannya sebagai tokoh dan pelaku reformasi. Hukum yang telah ditetapkan oleh Allah agar perubahan tersebut terjadi adalah, bahawa setiap perubahan apapun mesti selalunya dimulai dari perubahan pemikiran.

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehinggalah kaum itu yang mengubah apa yang terdapat di dalam diri mereka." (Q.s. Ar-Ra’du: 11).

Inilah hukum Allah SWT. dimana setiap perubahan mestilah harus dimulai daripada perubahan persepsi pada manusia, kaum atau umat yang ada. Hanya masalahnya, apakah perubahan yang terjadi itu akan lebih baik, lebih buruk ataukah sama sahaja? Itupun bergantung kepada persepsi, pemikiran dan perasaan yang menguasai manusia, kaum dan umat tersebut yang kemudiannya membawa perubahan (reformasi) (Az-Zein, 13-32: 1985). Di Indonesia, seumpanya, perubahan yang terjadi bukan menuju ke arah yang lebih baik, dari segi politik, ekonomi, budaya dan pendidikan, bahkan opini tentang Islam itu sendiri. Sebab, persepsi, pemikiran dan perasaan yang dibangun sejak sebelum, ketika dan setelah kekuasaan Soeharto adalah persepsi, pemikiran dan perasaan kapitalis. Meskipun agak malu-malu menyebut Indonesia sebagai negara kapitalis. Sehingga perubahan yang terjadi di Indonesia pun perubahan yang kapitalistik, bahkan lebih buruk daripada keadaan Indonesia sebelumnya.

Jika perubahan telah terjadi, dan keadaan setelah perubahan tersebut lebih buruk, maka kehancuran dan musibah-lah yang akan menimpa seluruh manusia, kaum dan umat tersebut. Jika mereka tetap bertahan dengan keadaan dan sikap mereka, serta tidak melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, maka sejarah yang terjadi pada mereka adalah sejarah kehancuran. Inilah fakta normatif telah diungkapkan oleh Allah SWT.:

"Penduduk itu telah Kami hancurkan kerana mereka berbuat zalim, dan Kami tetapkan waktu yang telah dijanjikan sebagai kehancuran mereka." (Q.s. Al-Kahfi: 59)

Namun, apabila mereka menyedari keburukan mereka, lalu mereka memohon keampunan kepada Allah atas dosa-dosa mereka, kemudian menempuh jalan keta’atan, maka Allah SWT. akan menolong mereka, memberikan petunjuk dan taufiq-Nya sehingga keadaan mereka berubah menjadi lebih baik. Inilah yang tampak dalam firman Allah melalui lisan Nabi Nuh:

"Aku perintahkan (kepada mereka): ‘Mintalah ampun kepada tuhan kamu, sesungguhnya Dia Maha pengampun. Dia telah mengirim hujan kepada kamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula untukmu (di dalamnya) sungai-sungai." (Q.s. Nuh: 10-12).

Sedangkan bukti secara empirik, sebagaimana yang pernah ditulis oleh Pensyarah Tamu di Universiti Utara Malaysia, Profesor Madya Sritua Arif, di akhbar Indonesia Media Indonesia, 9/9/1998 dengan tajuk Konspirasi Politik di Balik Jatuhnya Rupiah? Bahawa jatuhnya nilai rupiah di Indonesia kerana konspirasi politik dan kejahatan sistem yang dibangun oleh Soeharto serta kroni-kroninya. Pada periode 1978/79-1995/96, nilai kumulatif defisit perkiraan berjalan dalam neraca pembayaran adalah sebesar US$ 43,4 billion. Yang menjadi penyebab utama adalah keuntungan investasi asing dan interest hutang luar negeri, sehingga menyedut surplus ekonomi dari Indonesia. Setelah Soeharto turun, IMF dan Bank Dunia yang sebelumnya telah masuk dan mengakar ke Indonesia melalui tangan-tangannya, menurut Sritua Arif, justeru merupakan konspirasi yang lebih jahat. Sebab, sebahagian besar hutang dari IMF dan Bank Dunia sebanyak US$ 49 billion digunakan untuk membiayai defisit perkiraan berjalan dalam neraca pembayaran. Ertinya, semuanya akan digunakan untuk kepentingan asing dalam import, memberi keuntungan pelaburan asing, interest hutang luar negeri dan jasa-jasa asing lainnya. Lebih jauh beliau mengungkapkan bahawa konspirasi tersebut mencakupi:

1. Pihak asing akan menentukan formula polisi ekonomi dan sosial di Indonesia, termasuk struktur kekuasaan.

2. Penguasaan devisa akan kembali di tangan asing dengan intensitas yang jauh lebih tinggi.

3. Penguasaan unit-unit ekonomi dan aset negara Republik Indonesia oleh pihak asing akan bertambah intensif.

Di akhir tulisan itu, beliau mengingatkan bahawa jangan hairan jika nanti ada tulisan yang bertajuk: The Fall of A Nation (Kejatuhan Suatu Bangsa).

Dari sinilah, kita akan mengkaji perlu dan tidaknya reformasi, ke mana arah reformasi serta pemikiran apa yang mesti dijadikan sebagai asas untuk membangun reformasi, sehingga terjadi perubahan yang lebih baik dan sejahtera, bukan malah sebaliknya. Kehancuran dan kejatuhan sebuah bangsa, umat dan sejarah kehidupan manusia. Dan untuk menjelaskan semuanya ini, tulisan ini cuba mengakumulasikan tulisan-tulisan sebelumnya dalam sebuah bingkai yang boleh menyederhanakan jalan fikiran kita, termasuk pembaca. Iaitu, tentang perlunya pemikiran, persepsi dan perasaan umat, bangsa dan masyarakat ini dibangun dengan pemikiran yang cemerlang, lebih baik dan agung, sehingga terjadi perubahan yang diasas dengan asas yang benar dan melahirkan perubahan yang benar. Dan untuk menentukan permikiran, persepsi dan perasaan apa yang lebih baik, lebih agung dan cemerlang, lebih-lebih lagi bangsa dan negeri ini merupakan bangsa dan negeri Islam, tentu tidak ada lain kecuali Islam itu sendiri. Dan lebih penting daripada semuanya itu, adalah menentukan agenda utama umat ini sehingga tujuan dan arah perubahan menjadi lebih baik.

Konsep Politik Islam dan Agenda Utama Umat

Harus diakui, bahawa sistem yang ada di seluruh negeri kaum muslimin adalah kapitalis, dimana kapitalisasi ini terjadi sebagai hasil dari penjajahan klasik dan terus dipertahankan dengan konsep penjajahan neo-klasik. Kerana asas kapitalisme adalah manfaat, maka semua cara dilakukan untuk memperoleh manfaat, sehingga cara-cara kotor pun dilakukan untuk mendapatkan manfaat. Akhirnya muncul persepsi di tengah umat Islam, bahawa politik itu kotor. Bahkan tidak sedikit umat Islam yang kemudian menjauhi politik, kerana takut terkena tempias najisnya. Tentu ini merupakan kesalahan besar, akibat persepsi yang dibangun oleh sistem politik yang salah. Dari praktik itulah umat akhirnya merasa ditindas, dizalimi dan diperlakukan tidak adil, kemudian menuntut perubahan. Namun, sekali lagi mereka tidak tahu mahu kemana dan idealisme mana yang lebih ideal dan agung untuk mewujudkan perubahan?

Untuk itu, perlu diperkenalkan definisi politik dan agenda utama umat Islam menurut pandangan Islam. Mengingatkan ini merupakan wilayah tamadun, sedangkan kita haram mengambil tamadun yang lain , kecuali daripada Islam, maka mengemukakan takrifan ini merupakan sesuatu yang mendesak dan wajib, sehingga umat ini boleh selamat daripada tempias politik yang najis tersebut.

Politik ditakrifkan sebagai mengatur urusan rakyat, baik urusan dalam maupun luar negara, dengan menelaksanakan semua hukum Islam. Samada dilaksanakan oleh negara maupun umat. Negara bertugas melaksanakan pengurusan secara langsung, sedangkan umat bertugas melakukan kawalan terhadap negara (Political Thought, A.Q. Zallum: 2). Sebab, tidak ada keadilan, kebaikan, kemuliaan dan keagungan yang menjadi cita-cita yang diperjuangkan semua manusia yang sesuai dengan fitrah mereka, kecuali Islam. Allah SWT. berfirman:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran kepadamu dengan sebaik-baiknya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Q.s. An-Nisa’: 58)

Ayat ini menjelaskan, bahawa seluruh kebaikan itu hanya ada didalam syari’at Islam, sebab di situlah kebaikan dunia, kedudukan manusia dan kebahagiaan komuniti akan terjaga. Yang oleh para ulama’ ushul disebut sebagai Al-Muhafadhah ‘Ala Al-Ahdaf Al-Ulya. Menjaga tujuan-tujuan agung nan-luhur. Yang meliputi: Maslahat Dharuriyah, Tahsiniyah, Takmiliyah dan Masalahat Hajiyah. Ayat ini memang ditujukan kepada para penguasa, yang mewajibkan mereka memerintah rakyatnya dengan keadilan, yang tidak dapat dicapai kecuali dengan penerapan syari’at Islam kepada rakyatnya, serta tunduk mutlak kepada semua aturan yang diturunkan oleh Allah SWT. (Ayat Al-Ahkam, As-Syeikh Ali As-Sayis, III/116; Ad-Dimuqrathiyah Al-Gharbiyah Fi Dhau’i As-Syari’ah Al-Islamiyah, Dr. Mahmud Al-Khalidi, 139-144).

Untuk mempertegaskan gambaran tersebut, Allah juga telah mengingatkan, bahawa penyimpangan dari syari’at Islam itu merupakan penyebab utama terjadinya fitnah, musibah, bala’ dan azab Allah. Sama ada bala’ yang berupa banyaknya kemaksiatan, virus HIV, kezaliman, pelecehan kepada Islam dan hukumnya, kemurtadan dan penerapan sistem kufur, serta berkembangnya ajaran-ajaran sesat di tengah masyarakat, seperti anti hadis, bid’ah, khurafat dan tahayul. Semuanya ini merupakan musibah dan bala’ akibat tidak adanya sistem Islam yang menjaga agama ini.

"Maka, hendaklah orang-orang yang menyimpang dari perintah-Nya berhati-hati terhadap bala bencana dan azab yang pedih yang akan ditimpakan kepada mereka." (Q.s. An-Nur: 63)

Untuk itu, agenda utama umat itu ketika ini adalah mengembalikan syari’at Islam dalam kehidupan kaum muslimin, samada dalam bidang ekonomi, politik, sosial, pendidikan, uqubat dan lain-lain dengan mendirikan kembali khilafah Islam dunia. Inilah agenda utama umat Islam, dan sekaligus agenda politik umat ini. Sedangkan yang lain-lain, seperti kes kezaliman, penindasan baik yang terjadi di Palestin, Kosovo, ancaman disintegrasi di Indonesia, Afganistan, kebuluran Sudan, konflik politik di negeri-negeri kaum muslimin, termasuk Malaysia hanyalah masalah sampingan. Yang oleh Dr. Hafidz Shaleh disebut sebagai penyakit sampingan (al-amradh al-janibiyah) daripada masalah utama (An-Nahdhah, Shaleh, 114-120: 1988; Al-Afkar As-Siyasiyah, Abdul Qadim, 141-143: 1994).

Masalahnya sekarang adalah, bagaimanakah cara untuk mewujudkan agenda utama umat Islam ketika ini? Untuk menuju ke sana, umat wajib memahami: Asas Politik Islam, supaya memperjelas visi politik dan perjuangan politik yang akan dimainkan oleh umat; Rumusan Visi Politik Agung sehingga jelas tujuan yang hendak dicapai; Agenda Politik Umat dan Metode, Teknik dan Wasilah Pembinaan Politik Umat.

Asas Politik Islam

Kerana Islam merupakan sistem, dan masing-masing sistem berbeza asasnya. Sedangkan asas ini merupakan sesuatu yang akan menentukan bangunan sistem tersebut, maka asas politik Islam tentu berbeza dengan politik yang lain. Maknanya, bagaimana "cara mengurus urusan umat dengan hukum Islam" boleh dijalankan dengan baik, maka Dr. Samih Athif Az-Zein, dalam bukunya As-Siayasah wa As-Siyasiyah Ad-Dualiyah, menjelaskan bahwa asas politik Islam ada 4:

1. Kesetiaan mutlak untuk Allah: Sebab Islam mendidik seorang Islam untuk memberikan kesetiaannya secara mutlak kepada Penciptanya, yang menguasai semua urusannya. Caranya dengan mengikuti semua yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Kesetiaan ini dinilai belum cukup, sebelum tunduk secara total kepada hukum Allah SWT. Kesetiaan ini akan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada yang lain. Allah berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu pemutus perkara dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (Q.s. An-Nisa’: 65)

2. Hak membuat hukum hanya milik Allah: Penjelasan hukum halal-haram, serta batasan masing-masing hanya boleh diputuskan oleh Allah, sebab tidak ada yang lain, yang mempunyai hak seperti Allah. Sehingga tidak seorang pun dapat meninggalkan hukum Allah ini, kemudian menggunakan hawa nafsunya untuk diterapkan kepada rakyat. Halal adalah apa yang dihalalkan oleh syari’at Islam yang lurus, dan haram adalah apa yang diharamkan oleh syari’at Islam yang lurus. Allah berfirman: "Mereka (Ahli Kitab) telah mengambil orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah." (Q.s. At-Taubah: 31). Adi bin Hatim bertanya kepada Rauslullah:"Bukankah mereka tidak menyembahnya, wahai Rasul?" Jawab Rasul: "Mereka memang tidak menyembahnya, namun mereka mengharamkan hukum halal untuk mereka, dan menghalalkan yang haram untuk mereka, kemudian mereka mengikutinya. Itulah ibadah mereka kepadanya." (H.r. Ahmad, At-Turmidzi dan Ibnu Jarir). Jadi, ayat dan hadis ini mengharamkan manusia mengambil hukum halal-haram dari manusia untuk mengatur kehidupan mereka.

3. Khalifah, Pembantu Khalifah dibidang Kerajaan dan Administrasi, adalah pelaksana hukum dan bukan pembuat hukum: Pelaksana hukum dalam pandangan Islam bukanlah seorang diktator dan melaksanakan hukum berdasarkan hawa nafsunya kepada rakyatnya. Namun, dia merupakan penanggungjawab yang diperintahkan untuk mengurus urusan umat Islam berdasarkan hukum syari’at. Sehingga terciptalah keadilan, kasih-sayang dan kemuliaan diantara mereka. Inilah gambaran indah yang digambarkan oleh Nabi: "Sebaik-baik pemimpin kamu adalah orang yang kamu cintai, dan kamu pun mencintai mereka. Mereka mendo’akan kamu, dan kamu pun mendo’akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin diantara kalian adalah mereka yang membenci kamu, dan kamu pun membenci mereka. Mereka melaknat kamu, dan kamu pun melaknat mereka." (H.r. Muslim dari Auf bin Malik, hadis nomber 3980, Al-Jami’ As-Shaghir, As-Suyuthi, I/615).

4. Syura: Syura dalam Islam adalah mengambil pandangan, samada dalam masalah hukum syara’, pemikiran, strategi maupun melaksanakan aktiviti. Dalam Islam, pandangan dalam hukum syara’ hanya boleh diterima jika diambil dari nas dan dalil syara’ dengan ijtihad yang sahih. Dalam masalah pemikiran dan strategi, pandangan yang diambil adalah pandangan yang paling tepat antara lain dengan merujuk kepada ahlinya. Inilah yang ditanyakan oleh Hubab kepada Nabi sewaktu perang Badar Kubra: "Apakah ini merupakan pandangan, wahyu ataukah strategi?" Jawab Nabi: "Pandangan dan strategi." Maknanya bukan wahyu, iaitu berkenaan dengan hukum syara’, melainkan perkara mubah yang berkenaan dengan pandangan dan strategi sahaja. Akhirnya baginda saw. menerima usulan Hubab, meskipun baginda mesti meninggalkan pandangan baginda sendiri, juga pandangan sahabat senior yang lain. Adapun dalam bidang pelaksanaan aktiviti yang jelas mubah dan diketahui semua orang akibatnya, pandangan yang dipilih ditentukan oleh suara majoriti. Maka, baginda saw. memilih menyongsong musuh di luar Madinah mengikut suara majoriti sahabat muda. Maka, termasuk syura ini adalah kewajiban umat mengawal pelaksanaan hukum yang dijalankan oleh negara. (Az-Zein: 39-44: 1987).

Agenda Politik Umat

Dari huraian di atas, maka tampak jelas bahawa agenda politik umat Islam, yang merupakan persoalan mendasar yang dihadapi oleh negara dan umat yang diwajibkan oleh syari’at Islam untuk dilaksanakan, adalah mengembalikan hukum Islam agar diterapkan semula di tengah masyarakat yang berbilang kaum ini. Inilah masalah mendasar ketika ini. Dan masalah ini tidak perlu argumentasi lagi kerana merupakan bahagian daripada pelaksanaan hukum syara’ terhadap semua persoalan yang terjadi. Meskipun dalam tahap-tahap pencapaian itu terdapat agenda yang berbeza-beza.

Rasulullah saw. contohnya, ketika berdakwah di Mekah agenda politiknya adalah menyampaikan dan mengisytiharkan Islam. Inilah dibuktikan oleh pernyataan Abu Thalib, apabila beliau berkata "Kaum-kaum kamu telah mendatangiku dan melapurkan begini begini terhadap sesuatu yang mereka sebut-sebut boleh menyusahkanku dan kamu sendiri. Dan jangalah kamu mebebankan kepadaku apa yang tak sanggup aku pikul." Rasulullah menjawap: "Wahai paman, kalaulah mereka boleh meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya sehinggalah Allah memenangkanya atau aku mati kerananya." Ucapan sebegini menunjukkan bahawa agenda politik Rasulullah adalah untuk mengisytiharkan Islam.

Apabila Rasulullah berhijrah ke Madinah dan mendirikan negara Islam di sana dan melancarkan peperangan terhadap musuh utamanya, kafir Quraisy, maka agenda politik baginda ketika itu adalah melestarikan kemenangan dan kejayaan Islam. Sebab inilah, dalam perjalanan Rasulullah untuk melaksanakan ibadah Haji dan sebelum sampai ke Hudaibiyah, Nabi telah mendengar bahawa kafir Quraisy telah mendengar berita perjalanan Baginda dan mereka keluar untuk bersiap-sedia memerangi orang-orang Islam. Seorang lelaki dari Bani Ka’ab berkata kepada baginda: "Mereka mendengar perjalanan kamu dan mereka sedang bersiap-saip untuk memerangi engkau .....berjanji kepada Allah bahawa kamu tidak akan akan masuk ke sana." Nabi menjawab "Celaka, Quraisy, mereka sedang binasa kerana perang, Apa yang menyebabkan mereka merasa rugi jika mereka membiarkan aku bersama-sama dengan orang Arab. Apakah yang sedang mereka fikirkan (meraka ini tidak berfikirkah)? . Demi Allah aku akan meneruskan jihad berdasarkan apa yang diutuskan aku sehinggalah Allah memenangkan atau tengkuk ku terpenggal." Terpenggalnya leher bermakna kematian, iaitu sehingga aku mati. Agenda politik dalam kedua kes tersebut adalah sama. Dalam kes yang pertama, baginda bercita-cita mendakwahkan Islam sehinggalah Allah memenangkanya. Manakala dalam situasi kedua pula, iaitu selepas penubuhan negara agenda politik Rasulullah adalah untuk melestarikan jihad sehinggalah Allah mendatangkan kemenangan.

Apabila Rasulullah mengadakan perjanjian damai dengan Quraisy (yang mana mejadi kunci penaklukan kota Mekah dan orang-orang Arab mula memasuki Islam secara berduyung-duyung), maka agenda politik Islam untuk Rasulullah ketika itu bukan sahaja untuk memenangkan Islam malah memenangkannya ke atas segala agama yang ada di muka bumi ini, iaitu agama orang Rom dan Parsi, selaras dengan kejadian ini, Allah berfirrman:

Dialah Allah yang mengutuskan RasulNya dengan petujuk agar dimenangkan atas din-din yang lain. (Q.s. As-Shaf: 09)

Berdasarkan keyataan di atas tidak dapat dinafikan bahawa, jika negara melaksanakan Islam dengan benar dan mempunyai karakter seperti ini, maka kedudukan negara di mata antarabangsa akan menjadi sangat kuat. Iaitu menjadikan agenda politik umat agar boleh memenangkan Islam terhadap semua agama lain dan bersedia menghancurkan semua aspek yang berkaitan dengan ideologi yang lain.

Jika agenda politiknya jelas, maka siapa musuh dan siapa kawan menjadi jelas. Demikian halnya istilah yang sering dipakai dalam dunia politik: "Tidak ada musuh yang abadi dan teman yang sejati dalam politik." tidak akan berlaku dalam kamus politik Islam. Sebab, musuh Islam adalah abadi, iaitu kekufuran, baik agama maupun ideologi non-Islam, serta orang-orang yang memperjuangkan, membela dan menyebarkan kekufuran. Dan temannya pun abadi, iaitu Islam dan orang yang mennyebarkan Islam.Jadi, pertimbangan musuh dan teman bukan dengan asas yang lain, seperti kepentingan, peribadi atau kemanusiaan, melainkan Islam itu sendiri. Inilah yang oleh Allah SWT. tegaskan dengan jelas:

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kamu, maka jadikanlah ianya sebagai musuh." (Q.s. Fathir: 6)

Yang dimaksud dengan "syaitan" di sini, menurut Dr. Ali Al-Hasan, Profesor Al-Qur’an dan Tafsir di Fakulti Studi Islam dan Bahasa Arab Dubei, dalam kitab tafsirnya Tafsir Surat Al-Fatihah, adalah "sesiapa sahaja yang membangkang kepada Allah." Sehingga ada "syaitan" yang tak terlihat, iaitu jin dan "syaitan" yang terlihat, iaitu manusia. Masing-masing menjadi musuh bagi manusia yang beriman, termasuklah para Nabi dahulu:

"Demikianlah Kami jadikan untuk tiap Nabi itu musuh, iaitu syaitan yang berupa manusia dan jin." (Q.s. Al-An’am: 112). (Tafsir Surat Al-Fatihah, 7: 1993).

Krisis Politik dan Cara Membina Sikap Politik Umat

Krisis politik yang terjadi khasnya di dunia Islam, seperti yang terjadi di Indonesia sehingga menjatuhkan Soeharto, ataupun yang terjadi di Afganistan, termasuk yang terakhir sekali di Malaysia, sebenarnya terjadi kerana adanya konflik politik antara kekuatan yang berpengaruh. Di Indonesia, contohnya, setelah Soeharto jatuh, Habibie naik, krisis politik tetap terjadi. Jika sebelumnya, krisis tersebut terjadi akibat konflik politik antara kekuatan politik pro-demokrasi, yang dipelopori oleh mahasiswa dan intelektual dengan kekuatan Soeharto, maka ketika ini krisis terjadi akibat daripada konflik politik antara kekuatan Nasrani, Nasionalis dengan Habibie dan Islam yang pro-demokrasi. Dengan demikian, sebenarnya boleh disimpulkan bahawa krisis politik yang terjadi di negeri kaum muslimin adalah kerana adanya konflik politik antara kekuatan-kekuatan yang ada di tengah masyarakat.

Sedangkan punca terjadinya konflik politik yang menyebabkan terjadinya krisis politik tersebut, menurut Dr. Abdul Hakim Abdullah dalam artikel beliau yang dimuat di majalah Al-Waie: 126/XI/Rajab 1418, dengan tajuk Al-Mu’aradhah As-Siyasiyah, adalah:

Pertama, perbezaan ideologi. Iaitu konflik yang terjadi kerana perbezaan visi politik kerana secara ideologi berbeza. Contoh, konflik politik yang terjadi antara kekuatan Soekarno yang menganut Nasionalisme-Sosialisme dengan Soeharto yang menganut Nasionalisme-Kapitalisme pada era 60-an, sehingga Soekarno diasingkan dari jabatannya sebagai presiden dengan sokongan CIA Amerika. Sebab, meskipun Soekarno adalah agen Amerika, namun dipandang telah menyimpang daripada panduan Amerika, sebaliknya menghidupkan ideologi Sosialisma yang dinamakannya dengan Marhaen. Meskipun, masing-masing kekuatan tersebut melakukan kerjaya politik atas kendalian kuasa besar, bukan secara total daripada kendalian mereka.

Kedua, perbezaan strategi. Iaitu konflik politik yang terjadi akibat pandangan strategi yang berbeza di antara kekuatan politik yang ada. Konflik ini biasanya dialami oleh kekuatan-kekuatan yang mempunyai asas ideologi. Sebab, strategi di sini biasanya disusun untuk kepentingan ideologi

Ketiga, perbezaan kepentingan dan tujuan. Iaitu konflik politik yang terjadi akibat perbezaan antara kekuatan politik dalam masalah teknikal, operasional atau cabang ideologi. Contohnya, apabila ada dua kekuatan politik, yang masing-masingnya sama-sama memperjuangkan Kapitalisma, Demokrasi serta amalan-amalan ekonomi dengan dasar ekonomi Kapitalisma, kemudian mengalami konflik kerana yang satu bersetuju dengan polisi menaikkan kadar faedah bank, agar masyarakat mahu menabung ke bank sehingga dana di bank cukup untuk membiayai projek, sedangkan yang lain bersetuju dengan polisi menurunkan kadar faedah bank agar boleh membiayai projek, kerana pemilik syarikat mampu meminjam di bank, sebab kadar faedahnya rendah, dengan begitu nadi ekonomi masyarakat akan berjalan. Sebenarnya konflik ini hanyalah konflik yang disebabkan oleh perbezaan kepentingan dan tujuan, bukannya perbezaan ideologi, sebab masing-masing sama-sama mengamalkan amalan yang berasal daripada ideologi yang sama, iaitu Kapitalisma. Termasuklah perbezaan dalam melaksanakan konsep demokrasi, tentu bukan kerana perbezaan ideologi, melainkan perbezaan kepentingan sahaja.

Dalam masalah tersebut, baiasanya sampai menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat, bahkan boleh terjadinya perang saudara, seperti yang pernah terjadi di Yaman Utama dan Yaman Selatan, pada awal tahun 90-an. Dalam kondisi seperti ini, biasanya masyarakat dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan yang ada untuk mencari pengaruh, maka masyarakat mesti menyedari keadaan ini dan mesti pandai dan tepat dalam menentukan sikap politiknya. Iaitu sikap politik yang dibina dengan pandangan, asas dan ideologi Islam, bukan yang lain.

Namun, mengharapkan sikap politik masyarakat seperti ini merupakan harapan yang sulit dan susah diwujudkan. Apalagi jika menyaksikan kekuatan yang ada hanya menjadikan masyarakat seperti lembu perahan. Jika diperlukan, mereka akan diberi makanan, kemudian setelah itu diperah. Betapa malang nasib masyarakat yang bodoh ini.

 

Parti Politik dan Fungsi Perubahan

Dalam keadaan masyarakat yang pemikirannya amat rendah seperti sekarang ini, pertanyaannya adalah siapakah yang bertanggungjawab untuk mendidiknya, jika tugas tersebut tidak dilaksanakan oleh negara?

Dalam masalah ini, Islam telah menetapkan metode, iaitu khilafah Islamiyah di satu sisi sebagai pelaksana seluruh hukum Islam, yang berkewajiban mendidik umat. Disamping itu, Islam juga telah menetapkan parti politik sebagai organisasi yang berfungsi mendidik umat agar mempunyai pemikiran yang cemerlang. Kerana saat ini, khilafah Islamiyah tidak ada, maka fungsi tersebut hanya boleh dibawa oleh parti politik Islam. Dimana parti politik tersebut telah menempatkan kedudukannya sebagai pelayan umat atau masyarakat. Dan bersama-sama umat atau masyarakat membangun kesadaran kolektif tentang Islam secara utuh. Fungsi inilah yang secara baik diperanankan oleh Hizbu Rasul (parti Rasul) yang diketuai oleh baginda Rasulullah saw. apabila beliau menghimpun sahabat-sahabat baginda di rumah Al-Arqam bin Al-Arqam, kemudian didemonstrasikan sewaktu tawaf di keliling Ka’bah. Setelah itu, baginda dengan seluruh anggota partinya bergerak di tengah masyarakat jahiliyah ketika itu untuk mendidik mereka mencari hidayah. Memerangi kekufuran dan kejahilan yang ketika itu telah menjadi sistem masyarakat Mekah.

Meskipun baginda Rasul di Mekah tidak berhasil melakukan perubahan sistem, namun atas pertolongan Allah, setelah terjadinya Bai’at Aqabah I, baginda saw. mengirim Mus’ab bin Umair ke Madinah yang ketika itu namanya masih Yasrib untuk mendidik masyarakat di sana. Satu tahun tepat, Mus’ab berada di Madinah, opini umum tentang Islam telah tertanam dengan kuat sehingga menumbuhkan kesedaran kolektif di kalangan masyarakat terhadap Islam. Sehingga tidak ada satu rumah pun, kecuali menyebut Islam.

Inilah keberhasilan dakwah yang dibawa oleh Rasul dengan Hizbu Rasul-nya. Proses perubahan yang dimulai oleh parti Islam hingga membawa perubahan besar di Madinah tersebut, oleh Dr. Samih Athif Az-Zein dalam Sifat Ad-Da’iyah, dihuraikan:

Pertama, mengetahui tujuan yang ingin dicapai oleh tiap orang Islam, iaitu meninggikan kalimat Allah dan dijadikan sebagai satu-satunya kalimat yang tinggi. Caranya dengan menegakkan semua perintah Allah dan menjalankan hukum-hukumNya. Sebab, perubahan itu sendiri hanyalah media untuk menuju kebaikan, dan tidak ada kebaikan yang hakiki kecuali pada Islam.

Kedua, merubah cara berfikir masyarakat sehingga boleh merubah keadaan dan martabat mereka. Inilah yang ditekuni oleh baginda mulai diutus hingga baginda saw. wafat.

Ketiga, memahami realiti dan usaha untuk merubah realiti tersebut, selama realiti tersebut memerlukan perubahan. Iaitu realiti kaum muslimin dahulu, baru kemudian realiti umat yang lain dengan pandangan yang menyeluruh yang dibina dengan asas aqidah Islam.

Keempat, hanya menggunakan strategi, media dan wasilah yang sesuai serta dijamin oleh syari’at Islam kehalalannya.

Kelima. membina masyarakat Islam dan mendirikan negara Islam sesuai dengan Kitab Allah dan Sunah Rasulullah saw.

Dengan cara inilah, baginda Rasulullah saw. telah berhasil melakukan perubahan masyarakat, iaitu masyarakat Madinah yang jahiliyah menjadi masyarakat Islam pertama setelah baginda berhasil mendirikan negara Islam. Setelah itu, baru baginda melakukan perubahan masyarakat Mekah sehinggalah Mekah menjadi masyarakat Islam.


ISLAMIKA Oktober-November